Rabu, 15 Februari 2017

PALA BAGI MASYARAKAT WERPIGAN - FAKFAK, PAPUA BARAT




                                     PETANI WERPIGAN CERIA

                             KETIKA MUSIM PALA TIBA

Oleh Entis Sutisna
Peneliti Balai PengkaianTeknolog   Pertanian (BPTP) Papua Barat





Pala merupakkan sumber penghasila  yang sangat diandalkan terutama bagi masyarakat di kabupaten Fakfak. Dalam setahun paling sedikit  enam  sampai delapan bulan kebutuhan hidup terpenuhi dari hasil pala. Petani Werpigan melihat pala seperti melihat uang, belanja kewarung bisa dengan pala, pinjam utang bisa dibayar dengan pala, bahkan orangtua mereka bisa naik haji karena hasil pala. Eksistensi tanaman pala perlu dipertahankan dan ditingkatkan. Dalam hal ini perlu perhatian khusus pemerintah daerah terutama berkaitan dengan penananam tanam pala baru dengan menggunakan klon unggul dengan bibit bermutu, penjarangan tanaman, serta membentuk lembaga keuangan desa yang dapat membantu kesulitan petani dalam mengakses permodalan.

Kabupaten Fak-fak merupakan   daerah penghasil pala terbesar di Indonesia Bagian Timur (Papua Barat). Salahsatu kampung (setingkat desa) yang mengembangkan tanaman pala adalah Werpigan yang berada di Wilayah distrik Fakfak-Barat (sekarang dimekarkan menjadi distrik Wartutin).
Kampung Werpigan letaknya memang agak terpencil (jauh ke-kota), pola perumahannya berderet memanjang mengikuti arah jalan (Barat -  Timur), sementara arah Selatan di batasi oleh lautan Atlantik dan sebelah Utara dibentengi oleh hutan pala. Untuk mencapai kampung Werpigan dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda empat sekitar satu jam dari kota Fak-fak (sekitar 60 km arah Barat kota Fak-fak).
Kampung ini dihuni oleh penduduk sekitar 112 KK (kepala Keluarga), sekitar 80 persen masyarakat bekerja sebagai petani dan nelayan. Kegiatan pertanian yang ditekuni terutama tanaman perkebunan seperti pala, durian, dan cengkeh. Pola kebun yang terbentuk  mirip kebun campuran ( dalam satu hamparan yang luas terdapat berbagai jenis tanaman dengan mayoritas  tanaman pala, bahkan ada pohon kayu yang tumbuh secara liar), hampir tidak ada batas-batas antar kebun ( batas kebun terbuat secara alami, seperti batu, pohon besar, atau sungai kecil) hanya pemilik kebun yang tahu. Dengan demikian banyak orang yang menyebutnya dengan hutan pala.

Panen Raya Pala
Awal musim panen pala ditandai dengan acara “Buka SASI.”. Pada musim  Barat sekarang (Nopember, Desember, Januari) tahun 2016, acara buka sasi dilakukan pada tanggal 3 Nopember 2016, sedangkan musim Timur biasanya jatuh pada bulan mei, Juni, Juli. Acara ini dihadiri oleh kepala Distrik,kepala Kampung, “Paraja”, tokoh Adat dan Masyarakat.
Dengan dicabutnya “Sasi “, masyarakat sudah bisa memulai panen pala, tetapi sebaliknya jika sasi belum dibuka masyarakat tidak diperbolekan memanen pala sekalipun itu di kebunnya sendiri. Pelanggaran terhadap kelembagaan ini dapat dikenakan sangsi adat berupa kurungan selama berjalannya musim panen pala (sekitar 3 bulan), demikian menurut pak Yusuf Kabes (Ketua Baperkam - Kampung Werpigan).
Sasi  dalam masyarakat petani pala merupakan salah satu “ kearifan lokal” yang bertujuan untuk melindungi kualitas pala agar tidak menurun karena terjadinya panen muda. Substansinya berupa norma-norma yang disepakati dan dipatuhi oleh semua masyarakat dan diawasi pelaksanaannya oleh kepala Dusun (merepresentasikan adat). Lambang sasi diwujudkan dalam bentuk dahan kayu yang dibungkus oleh kain merah lalu ditancapkan dalam tanah sehingga berdiri tegak. Penancapan dilakukan sekitar 2 bulan sebelum panen raya, dan dicabut pada saat panen dimulai.
Pelaksanaan panen pala memang tidak mudah, bahkan sangat sulit bagi pendatang yang belum terbiasa dengan panjat-memanjat pohon. Bagaimana tidak, untuk mengambil buah pala harus memanjat pohon yang cukup tinggi, kemudian dijolok dengan bambu atau dahan kayu yang sudah dipersiapkan, barulah buah pala berjaruhan ke tanah, lalu dikumpulkan dan dibuka daging buahnya.  Bagi masyarakat Werpigan nampaknya panen pala sangat mudah karena sudah terbiasa, bahkan beberapa gadis desa masih ada yang berani memanjat pohon untuk panen pala.

Produksi dan Pemasaran
Produksi utama pala adalah biji buah  dan puli. Harga biji pala saat ini mencapai Rp 40.000 sampai Rp 50.000 per kg. Sedangkan harga puli dapat mencapai Rp 120.000 per kg. Untuk memperoleh produk seperti ini diperlukan pengolahan berupa pengupasan, penjemuran dan “pengasaran” (mengeringkan biji pala dengan cara diasap/dipanaskan di atas tungku yang berada di rumah pala (alat asar). Melalui pengolahan seperti ini nilai jual pala lebih tinggi dibanding dengan jual basah. Namun demikian di kampung Werpigan mayoritas petani menjual dalam keadaan basah (tidak diolah), harga biji pala basah sekitar Rp 450.000 per seribu biji pala.
Sebenrnya masih ada produk lainnya yang berupa daging buah. Produk ini merupakan bahan baku pembuatan manisan dan sirop pala. Sayangnya sampai saat ini masih sedikit kulit buah yang diolah. Di Werpigan produk ini masih berupa limbah yang terbuag di kebun ketika mengupas daging buak dan biji buah. Menurut masyarakat  dulu daging buah ada yang membeli walaupun harganya murah, namun sekarang sebagian besar terbuang di kebun.  Sebagian masyarakat ada yang memanfaatkan daging buah pala sebagai bumbu masak, bahkan dapat dibuat sambel. Namun demikian jumlah yang dimanfaatkan hanya sebagian kecil saja.
Produksi pala dapat dijual dengan mudah. Petani bisa langsung menjual ke pedagang besar di kota fak-fak dalam bentuk biji pala dan puli. Dapat juga menjual ke padagang pengumpul desa dalam bentuk pala basah. Bahkan beberapa petani dapat mengambil uang ke padagang pengmpul desa untuk dibayar dengan pala pada saat panen. Yang lebih ringkas lagi belanja kewarung dapat dibayar dengan buah pala. Untuk belanja kebutuhan rumahtangga dengan nilai Rp 40.000 sampai Rp 50.000 cukup dengan membawa 100 biji pala.
Begitu mudahnya mendapatkan uang dari hasil pala membuat petani sangat bersemangat ketika memanen pala. Mereka sangat ceria ketika panen  pala tiba. Melihat pala sama dengan melihat uang. Dengan demikian ketika panen pala tiba, hari-hari petani dihabiskan dikebun. Berangkat jam 07.00 pagi pulangnya jam 07.000 malam. Sampai dirumahpun mereka asik mengupas biji pala (memisahkan biji pala dari puli yang menyelimutinya) sampai larut malam.
Dari  kegiatan usahatani pala petani memahami lebih banyak keuntungan bila dilakukan pengolahan, baru hasil olahnya dijual. Tetapi kenyataanya sekitar 80% petani menjual ke pedagang pengumpul desa dalam bentuk asah.  Kenapa ini terjadi? jawabannya ternyata pada umumnya petani sudah berutang ke pedagang sebelum panen pala di lakukan.
Keadaan ini menggambarkan bahwa petani pala di desa Werpigan kesulitan memperoleh uang tunai/modal dalam kegiatan berusahataninya, sehingga terpaksa mereka harus meminjamnya kepada pedagang pengumpul. Betulkah petani tidak bisa mengakses dana pinjaman di desa? Jika ya lantas bagaimana dengan program PUAP yang sudah ada sejak tahun 2008, dan di kabupaten Fak-fak tercatatat sudah ada 77 unit gapoktan PUAP yang  semestinya dapat menyalurkan pinjaman (simpan-pinjam). Fenomena ini menarik untuk dikaji lebih lanjut.

Penutup
Bagi Petani Werpigan, pala merupakkan sumber penghasilan yang sangat diandalkan. Dalam setahun paling tidak  enam  sampai delapan bulan kebutuhan hidup terpenuhi dari hasil pala, sisanya cukup dengan   melaut untuk menangkap ikan atau memanfaatkan  lahan tersisa untuk ditanami keladi, batatas dan sayuran. 




 Kegiatan usahatani pala di kampung Werpigan belum didukung dengan kelembagaan keuangan mikro, sehingga pendapatan petani dari pala tidak optimal.  

Eksistensi tanaman pala perlu dipelihara dan ditingkatkan. Dalam hal ini perlu perhatian khusus pemerintah daerah terutama berkaitan dengan penananam tanam pala baru dengan menggunakan klon unggul dengan bibit bermutu, penjarangan tanaman, serta membentuk lembaga keuangan desa yang dapat membantu kesulitan petani dalam mengakses permodalan.



SELAMAT DATANG DI BLOG ENTIS

Blog ini sengaja diberi latar pelakang pertanian perdesaan dengan icon utama tanaman padi. Memang saya menyukai iklim perdesaan, hawanya yang sejuk, pemandangan indah, masyarakatnyapun ramah. Masyarakat desa hidup rukun, saling memperhatikan, dan suka berbagi rezeki. Bagi saya desa masih tetap melambangkan  kemakmuran, dengaan tegakan tanaman padi sebagai pencirinya.  Di desa, walau tak selamanya ada uang, tetapi tak pernak kekurangan makanan. 
Sebagai seorang peneliti dengan bidang kepakaran sosiologi pertanian, saya selalu berada di desa, ditengah-tengah petani, saya merasa enjoy meengemban tugas ini, tetapi... saya juga sering prihatin karena masih banyak masalah-masalah desa yang belum terpecahkan.
Terus terang melalui laporan-laporan formal saya belum mampu mengekpresikan harapan dan keinginan orang desa.........mungkin itulah kelemhan saya.
Insya Allah melalui blog ini akan saya coba untuk berbagi dengan Anda.