PETANI
WERPIGAN CERIA
KETIKA
MUSIM PALA TIBA
Oleh
Entis Sutisna
Peneliti
Balai PengkaianTeknolog Pertanian (BPTP) Papua Barat
Pala merupakkan sumber penghasila yang sangat diandalkan terutama bagi masyarakat
di kabupaten Fakfak. Dalam setahun paling sedikit enam
sampai delapan bulan kebutuhan hidup terpenuhi dari hasil pala. Petani
Werpigan melihat pala seperti melihat uang, belanja kewarung bisa dengan pala,
pinjam utang bisa dibayar dengan pala, bahkan orangtua mereka bisa naik haji
karena hasil pala. Eksistensi tanaman pala perlu dipertahankan dan
ditingkatkan. Dalam hal ini perlu perhatian khusus pemerintah daerah terutama
berkaitan dengan penananam tanam pala baru dengan menggunakan klon unggul
dengan bibit bermutu, penjarangan tanaman, serta membentuk lembaga keuangan
desa yang dapat membantu kesulitan petani dalam mengakses permodalan.
Kabupaten Fak-fak merupakan daerah penghasil pala terbesar di Indonesia
Bagian Timur (Papua Barat). Salahsatu kampung (setingkat desa) yang
mengembangkan tanaman pala adalah Werpigan yang berada di Wilayah distrik
Fakfak-Barat (sekarang dimekarkan menjadi distrik Wartutin).
Kampung Werpigan letaknya
memang agak terpencil (jauh ke-kota), pola perumahannya berderet memanjang
mengikuti arah jalan (Barat - Timur),
sementara arah Selatan di batasi oleh lautan Atlantik dan sebelah Utara
dibentengi oleh hutan pala. Untuk mencapai kampung Werpigan dapat ditempuh
menggunakan kendaraan roda empat sekitar satu jam dari kota Fak-fak (sekitar 60
km arah Barat kota Fak-fak).
Kampung ini dihuni oleh
penduduk sekitar 112 KK (kepala Keluarga), sekitar 80 persen masyarakat bekerja
sebagai petani dan nelayan. Kegiatan pertanian yang ditekuni terutama tanaman
perkebunan seperti pala, durian, dan cengkeh. Pola kebun yang terbentuk mirip kebun campuran ( dalam satu hamparan
yang luas terdapat berbagai jenis tanaman dengan mayoritas tanaman pala, bahkan ada pohon kayu yang
tumbuh secara liar), hampir tidak ada batas-batas antar kebun ( batas kebun
terbuat secara alami, seperti batu, pohon besar, atau sungai kecil) hanya
pemilik kebun yang tahu. Dengan demikian banyak orang yang menyebutnya dengan
hutan pala.
Panen Raya Pala
Awal musim panen pala
ditandai dengan acara “Buka SASI.”. Pada musim
Barat sekarang (Nopember, Desember, Januari) tahun 2016, acara buka sasi
dilakukan pada tanggal 3 Nopember 2016, sedangkan musim Timur biasanya jatuh
pada bulan mei, Juni, Juli. Acara ini dihadiri oleh kepala Distrik,kepala
Kampung, “Paraja”, tokoh Adat dan Masyarakat.
Dengan dicabutnya “Sasi
“, masyarakat sudah bisa memulai panen pala, tetapi sebaliknya jika sasi belum
dibuka masyarakat tidak diperbolekan memanen pala sekalipun itu di kebunnya
sendiri. Pelanggaran terhadap kelembagaan ini dapat dikenakan sangsi adat
berupa kurungan selama berjalannya musim panen pala (sekitar 3 bulan), demikian
menurut pak Yusuf Kabes (Ketua Baperkam - Kampung Werpigan).
Sasi dalam masyarakat petani pala merupakan salah
satu “ kearifan lokal” yang bertujuan untuk melindungi kualitas pala agar tidak
menurun karena terjadinya panen muda. Substansinya berupa norma-norma yang
disepakati dan dipatuhi oleh semua masyarakat dan diawasi pelaksanaannya oleh
kepala Dusun (merepresentasikan adat). Lambang sasi diwujudkan dalam bentuk
dahan kayu yang dibungkus oleh kain merah lalu ditancapkan dalam tanah sehingga
berdiri tegak. Penancapan dilakukan sekitar 2 bulan sebelum panen raya, dan
dicabut pada saat panen dimulai.
Pelaksanaan panen pala
memang tidak mudah, bahkan sangat sulit bagi pendatang yang belum terbiasa
dengan panjat-memanjat pohon. Bagaimana tidak, untuk mengambil buah pala harus
memanjat pohon yang cukup tinggi, kemudian dijolok dengan bambu atau dahan kayu
yang sudah dipersiapkan, barulah buah pala berjaruhan ke tanah, lalu
dikumpulkan dan dibuka daging buahnya. Bagi
masyarakat Werpigan nampaknya panen pala sangat mudah karena sudah terbiasa,
bahkan beberapa gadis desa masih ada yang berani memanjat pohon untuk panen
pala.
Produksi dan Pemasaran
Produksi utama pala
adalah biji buah dan puli. Harga biji
pala saat ini mencapai Rp 40.000 sampai Rp 50.000 per kg. Sedangkan harga puli
dapat mencapai Rp 120.000 per kg. Untuk memperoleh produk seperti ini
diperlukan pengolahan berupa pengupasan, penjemuran dan “pengasaran”
(mengeringkan biji pala dengan cara diasap/dipanaskan di atas tungku yang
berada di rumah pala (alat asar). Melalui pengolahan seperti ini nilai jual
pala lebih tinggi dibanding dengan jual basah. Namun demikian di kampung
Werpigan mayoritas petani menjual dalam keadaan basah (tidak diolah), harga biji
pala basah sekitar Rp 450.000 per seribu biji pala.
Sebenrnya masih ada
produk lainnya yang berupa daging buah. Produk ini merupakan bahan baku
pembuatan manisan dan sirop pala. Sayangnya sampai saat ini masih sedikit kulit
buah yang diolah. Di Werpigan produk ini masih berupa limbah yang terbuag di
kebun ketika mengupas daging buak dan biji buah. Menurut masyarakat dulu daging buah ada yang membeli walaupun
harganya murah, namun sekarang sebagian besar terbuang di kebun. Sebagian masyarakat ada yang memanfaatkan
daging buah pala sebagai bumbu masak, bahkan dapat dibuat sambel. Namun
demikian jumlah yang dimanfaatkan hanya sebagian kecil saja.
Produksi pala dapat
dijual dengan mudah. Petani bisa langsung menjual ke pedagang besar di kota
fak-fak dalam bentuk biji pala dan puli. Dapat juga menjual ke padagang
pengumpul desa dalam bentuk pala basah. Bahkan beberapa petani dapat mengambil
uang ke padagang pengmpul desa untuk dibayar dengan pala pada saat panen. Yang
lebih ringkas lagi belanja kewarung dapat dibayar dengan buah pala. Untuk
belanja kebutuhan rumahtangga dengan nilai Rp 40.000 sampai Rp 50.000 cukup
dengan membawa 100 biji pala.
Begitu mudahnya
mendapatkan uang dari hasil pala membuat petani sangat bersemangat ketika
memanen pala. Mereka sangat ceria ketika panen
pala tiba. Melihat pala sama dengan melihat uang. Dengan demikian ketika
panen pala tiba, hari-hari petani dihabiskan dikebun. Berangkat jam 07.00 pagi
pulangnya jam 07.000 malam. Sampai dirumahpun mereka asik mengupas biji pala
(memisahkan biji pala dari puli yang menyelimutinya) sampai larut malam.
Dari kegiatan usahatani pala petani memahami lebih banyak keuntungan bila dilakukan pengolahan, baru hasil olahnya dijual. Tetapi kenyataanya sekitar 80% petani menjual ke pedagang pengumpul desa dalam bentuk asah. Kenapa ini terjadi? jawabannya ternyata pada umumnya petani sudah berutang ke pedagang sebelum panen pala di lakukan.
Keadaan ini menggambarkan bahwa petani pala di desa Werpigan kesulitan memperoleh uang tunai/modal dalam kegiatan berusahataninya, sehingga terpaksa mereka harus meminjamnya kepada pedagang pengumpul. Betulkah petani tidak bisa mengakses dana pinjaman di desa? Jika ya lantas bagaimana dengan program PUAP yang sudah ada sejak tahun 2008, dan di kabupaten Fak-fak tercatatat sudah ada 77 unit gapoktan PUAP yang semestinya dapat menyalurkan pinjaman (simpan-pinjam). Fenomena ini menarik untuk dikaji lebih lanjut.
Penutup
Bagi Petani Werpigan,
pala merupakkan sumber penghasilan yang sangat diandalkan. Dalam setahun paling
tidak enam sampai delapan bulan kebutuhan hidup terpenuhi
dari hasil pala, sisanya cukup dengan
melaut untuk menangkap ikan atau memanfaatkan lahan tersisa untuk ditanami keladi, batatas
dan sayuran. Kegiatan usahatani pala di kampung Werpigan belum didukung dengan kelembagaan keuangan mikro, sehingga pendapatan petani dari pala tidak optimal.
Eksistensi tanaman pala perlu dipelihara dan ditingkatkan. Dalam hal ini perlu perhatian khusus pemerintah daerah terutama berkaitan dengan penananam tanam pala baru dengan menggunakan klon unggul dengan bibit bermutu, penjarangan tanaman, serta membentuk lembaga keuangan desa yang dapat membantu kesulitan petani dalam mengakses permodalan.