Minggu, 20 Januari 2019






MEMBANGUN “KAMPUNG  PALA"  BERWAWASAN
 PERTANIAN BIO - INDUSTRI
DI KABUPATEN FAK-FAK – PAPUA BARAT



Oleh Entis Sutisna dan Amisnaipah
Peneliti Balai Pengkaian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat

ABSTRAK

Pala (Myristica fragrans Houtt) ialah tanaman asli Indonesia yang berasal dari kepulauan Banda, Maluku. Kini Wilayah penghasil utama pala meliputi  Maluku, Sulawesi Utara, Maluku utara, Sumatra Barat, Aceh, jawa Barat, dan Papua, termasuk kabupaten Fak-fak Papua Barat. Sebagai  pengkasil Pala di Wilayah Timur Indonesia, kabupaten Fakfak perlu mempertahankan dan meningkatkan eksistensinya dengan berbagai cara, salah satunya melalui pembentukan kampung pala berwawasan bio-Industri. Hal ini  diyakini dapat terwujud  karena ditunjang dengan potensi sumberdaya lokal yang ada, meliputi sumberdaya lahan, sumberdaya manusia, dan kelembagaan. Serta adanya dukungan dari Pemerintah. Model pengembangan bio-industri yang cocok untuk mendukung pembentukan kampung Pala, yakni model menurut komposisi komoditas, bisa berbasis integrasi tanaman ternak, atau berbasis  single Comodity, dengan menetapkan pala sebagai komoditas utama. Pembentukan kampung pala berwawasan bio-industri di kabupaten Fak-fak dapat ditempuh melalui tiga fase dengan kisaran waktu sekitar tiga sampai empat tahun. Untuk itu  perlu didukung dengan tersedianya inovasi teknis dan kelembagaan. Disarankan kepada Pemerintah daerah untuk meningkatkan peran aktifnya baik berkaitan dengan biaya, maupun dukungan kebijakan, berupa menciptakan iklim usaha yang kondusif, memperkuat organisasi petani, serta membentuk Tim yang solid terdiri dari beberapa instansi yang terkait dengan pengembangan komoditas pala.




PENDAHULUAN

Tanaman pala (Myristica fragrans Houtt) ialah tanaman asli Indonesia yang berasal dari kepulauan Banda, Maluku. Tanaman pala merupakan tumbuhan berbatang sedang yang tumbuh di daerah tropis, beriklim lembab dan panas, serta memiliki daun berbentuk bulat telur atau lonjong yang selalu hijau sepanjang tahun. Di Indonesia penghasil utama pala berasal dari wilayah Maluku, Sulawesi Utara, Maluku utara, Sumatra Barat, Aceh, jawa Barat, dan Papua (Kiptiyah, M. 2015; Ros La Gamba, 2015)
 Tanaman pala memiliki keunggulan yaitu hampir semua bagian batang maupun buahnya dapat dimanfaatkan, mulai dari kulit batang dan daun, fuli (benda yang berwarna merah yang menyelimuti kulit biji), biji pala dan daging buah pala (Van Den Bosch, H., & Frey, J. 2013; Carter, D., & Spence, C. 2011; ).
Pala pada umumnya dimanfaatkan sebagai rempah-rempah, ada pula digunakan sebagai penghasil minyak atsiri dan bahan obat (Perpustakaan UGM, i-lib. 2000; Sari, W., & Agustina, E. 2011; Vincent, O., Rainbow, L., Tilburn, J., Arst, H. N., & Peñalva, M. A. 2003 ; Freitas, J. S., Silva, E. M., Leal, J., Gras, D. E., Martinez-Rossi, N. M., Dos Santos, L. D., Rossi, A. 2011 ). Daging buah pala sendiri digemari oleh masyarakat jika telah diproses menjadi makanan olahan, misalnya: sirup, asinan pala, manisan pala, marmelade, selai pala, dodol serta kristal daging buah pala.
 Di Kabupaten Fakfak komoditas ini merupakan sumber penghasilan yang sangat diandalkan oleh masyarakat. Dalam setahun paling sedikit  enam  sampai delapan bulan kebutuhan hidup terpenuhi dari hasil pala.   Masyarakat petani  melihat pala seperti melihat uang, belanja ke-warung bisa dengan pala,  pinjam uang (untuk kebutuhan mendesak) bisa dibayar dengan pala, bahkan orangtua mereka bisa naik haji karena hasil pala.
Eksistensi tanaman pala di kabupaten Fak-fak perlu dipertahankan dan ditingkatkan. Dalam hal ini perlu perhatian khusus pemerintah daerah dalam upaya pengembangan pala saat ini dan kedepan. Membangun Kampung Pala dengan mengembangkan inovasi pertanian Bio-Industri, merupakan  langkah jitu yang patut diimplementasikan.  Tulisan ini merupakan bahan masukan bagi pemerintah daerah, utamanya Pemda  (Pemerintah Daerah) Kabupaten Fak-fak berkaitan dengan bagaimana mempertahankan dan meningkatkan eksistensi tanaman pala melalui pembangunan kampung pala berwawasan Bio-Industri.


SISTEM PERTANIAN BIO INDUSTRI
Sistem pertanian bio-industri adalah sistem pertanian yang mengelola dan memanfaatkan secara optimal seluruh sumberdaya hayati termasuk biomasa dan/atau limbah organik pertanian bagi kesejahteraan masyarakat dalam suatu ekosistem secara harmonis (Hendriadi, 2013).  Lebih lanjut dinyatakan bahwa konsep bio-industri tidak hanya fokus pada pemanfaatan pangan, pakan, pupuk dan energi  (multi guna), namun juga lebih mengedepankan pemanfaatan dan rekayasa genetik terhadap keberlimpahan sumberdaya genetik (plasma nutfah)
Sistem Pertanian-Bioindustri dipandang  sesuai untuk  dijadikan sebagai  pendekatan pembangunan pertanian di Indonesia. Dalam  pendekatan tersebut mengindikasikan adanya kesadaran, semangat, nilai budaya, dan tindakan (sistem produksi, pola konsumsi, kesadaran akan jasa ekosistem), serta memanfaatkan sumberdaya hayati bagi kesejahteraan manusia dalam suatu ekosistem yang harmonis.
Dalam pengembangannya,  Pertanian Bioindustri perlu difokuskan   untuk mewujudkan pembangunan pertanian inklusif yang merata, berkelanjutan dan menjamin terwujudnya sinergitas ketahanan pangan (food security), ketahanan energi (energy security) dan ketahanan air (water security) (Kementerian Pertanian, 2014). Dengan demikian pendekatan pembangunan pertanian ini perlu dikembangkan di seluruh wilayah Nusantara yang berbasis pada sumberdaya lokal.
Sejalan dengan itu maka prinsip dasar pertanian bioindustri adalah pertanian minimum limbah, minimum imported input dan enegi, pertanian pengolah biomasa dan limbah menjadi bioproduk baru bernilai tinggi, terpadu ramah lingkungan dan sebagai kilang biologi (biorefinery) berbasis iptek maju (FKPR, 2014 Prastowo, B. 2014). Sedangkan  pengembangan pertanian bioindustri adalah pengembangan pertanian yang ramah lingkungan, menerapkan inovasi teknologi, integrasi, dimulai dari hulu hingga hilir dan berkelanjutan serta memiliki nilai ekonomi tinggi dari pengolahan hasil samping, biomasa atau limbahnya.
Terdapat hal-hal yang dapat dijadikan acuan atau pokok-pokok pikiran dalam memahami pertanian bio-industri yang ideal, antara lain (Panduan Pengembangan Pertanian Bio Industri, 2015:
  1. Pertanian dikembangkan dengan menghasilkan sedikit mungkin limbah tak bermanfaat, sehingga mampu menjaga kelestarian alam atau mengurangi peencemaran lingkungan
  2. Pertanian dikembangkan dengan menggunakan sedikitmungkin input dari luar, sehingga biaya produksi dapat ditekan seminimal mungkin yang dampaknya akan meningkatkan daya saing produk-produk pertanian untuk pangan,energi, dan bahan baku industri.
  3. Pertanian dikembangkan dengan menggunakan sedikit mungkin energi dari luar, sekaligus mengurangi ancaman  peningkatan  pemanasan global dalam suatu sistem integrasi tanaman ternak.
  4. Pertanian dikembangkan seoptimal mungkin agar mampu berperan selain menghasilkan produk pangan juga pengolah biomasa dan limbahnya sendiri menjadi produk baru bernilai tinggi
  5. Pertanian dikembangkan mengikuti kaidah-kaidah pertanian terpadu ramah lingkungan, sehingga produknya dapat diterima dalam pasar global yang semakin kompetitif.
  6. Pertanian pada akhirnya dikembangkan sebagai kilang biologi (biorefinery) berbasis iptek maju penghasil produk pangan sehat dan produk non pangan bernilai tinggi, sekaligus  sebagai upaya untuk meningkatkan ekspor produ-produk olahan dan mengurani impor berbagai komoditas pertanian seperti kedele, buah-buahan, beberapa sayuran, pakan ternak, susu, daging dan sebagainya.

“KAMPUNG PALA”  BERWAWASAN  PERTANIAN  BIO-INDUSTRI,
 SEBUAH GAGASAN

Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam mengembangkan model inovasi pertanian bio-industri, yaitu: (a)  model menurut komposisi komoditas, (b) model menurut kawasan, (c) model berbasis agro ekosistem. Dari ketiga model tersebut  mengindikasikan bahwa pertanian bio industri sangat berkaitan dengan sumberdaya lahan, tanaman, ternak, sumberdaya manusia, dan teknologi.
Dalam membangun kampung pala berwawasan bio-industri di kabupaten Fak-fak, lebih tepat menggunakan model menurut komposisi komoditas.  Dalam hal ini bisa berbasis integrasi tanaman ternak, atau berbasis  single Comodity, dengan menetapkan pala sebagai komoditas utama. Kedua basis model ini dapat dilihat melalui Gambar 1 dan Gambar 2.









Gambar1. Model Bio Industri Berbasis Integrasi Pala-Kambing
Gambar 1 menunjukkan model ideal kampung pala berwawasan bio-industri berbasis pala-kambing. Dalam hal ini kampung sebagai satu kesatuan masyarakat dengan tingkat homogenitas yang tinggi. Sebagian besar masyarakat hidup sebagai petani pala dan peternak kambing secara terintegrasi. Dari kegiatan ini petani  akan memperoleh tambahan pendapatan (selain dari tanaman pala dengan berbagai diversifikasi produknya, juga memperoleh pendapatan  dari ternak kambing dengan berbagai diversifikasinya) di sisi lain dapat menekan biaya karena adanya integrasi yang mencerminkan adanya efisien baik dari penggunaan tenaga kerja maupun dari penggunaan iiput dengan mengedepankan penggunaan  “ internal input” dan “internal energi” sebagai hasil dari proes bio-industri
Secara kelembagaan masyarakat terhimpun dalam beberapa” kelompok tani “pala (primair organisation) yang selanjunya diwadahi dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) , melalui jalur organisasi ini petani pala yang sekaligus peternak dapat memperoleh aliran teknologi yang bersumber dari penyuluh atau langsung dari peneliti atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) (Sahyuti, 2014). Demikian juga umpan balik teknologi berdasarkan keluhan petani akan sampai kepeneliti melalui poktan dan gapoktan bisa juga secara langsung melalui penyuluh dan peneliti. 
Peran Pemerintah Daerah terutama dalam hal kebijakan, mempermudah pihak swasta dalam berinvestasi, mengaktifkan kelembagaan penyuluhan, dan bekerjasama dengan peneliti (minimal terjadi sinergis program). Selain itu perlu menghidupkan pasar dan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A).
Berkaitan dengan LKMA, lembaga ini memiliki berbagai fungsi, selain sebagai penyedia permodalan buat usaha “non-bankabel”, juga sebagai penghimpun dana masyarakat, sekaligus  bisa berfungsi sebagai pasar dan melakukan usaha otonom. Apalagi kalau sudah berbadan hukum dan memiliki izin usaha dapat memperoleh kemudahan baik dari aspek pembinaan maupun kemudahan akses dana dengan bunga yang sangat ringan.  LKM-A dapat didirikan dari Gapoktan, sebagai salah satu unit usahanya, bisa dimulai dengan struktur yang sederhana yang terdiri dari Manager, Pembuku, dan Kasir (Kementan, 2015).
Di kabupaten Fak-fak sampai sat ini  sudah ada 77 Gapoktan PUAP, diantaranya sudah dipersiapkan menjadi LKMA berbadan hukum sekitar 10 Gapoktan. Gapoktan  tersebut sudah melaksanakan kegiatan usaha ekonomi produktif dan kegiatan simpan pinjam. Tahap selanjutnya jika administrasi sudah diperbaiki tinggal mengundang koperasi untuk menerbitkan badan hukum dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) untuk menerbitkan izin usahanya ( Sutisna, Entis 2015).
Karakteristik khusus kampung pala berwawasan pertanian bio-industri ini ditandai dengan adanya penanganan produk utama, produk sampingan, dan penangnan limbah. Dari kegiatan peternakan kambing dapat diperoleh produk utama berupa daging, produk sampingannya susu kambing, dan penanganan limbah kambing berupa “peaces  (kotoran padat), Urine (kotoran cair) menjadi POP (pupuk organik padat) dan POC (pupuk organik cair), dengan demikian pemeliharaan kambing harus dilakukan dengan sistem perkandangan.
Demikian juga dari kegiatan usahatani pala ada produk utama berupa biji pala dan puli, produk sampingan berupa manisan dan sirup  yang terbuat dari daging buah pala. Sedangkan penanganan limbah berasal dari daging buah yang tidak terpakai untuk diproses menjadi POP yang dicampur dengan kotoran padat kambing. Untuk kesempurnaan pembuatan POP diperlukan alat pendukung berupa mesin pencacah dan mesin penghancur (Humer Dismile).





 





Gambar 2. Model Bio Industri Berbasis Single Komoditas (Pala)
Kampung pala berwawasan pertanian bioindustri model 2 ini hampir sama dengan model pertama, namun lebih simpel karena hanya menangani satu komoditas yaitu pala. Subsistem lainnya seperti kelembagaan petani, peneliti, penyuluh dan peran pemerintah daerah tidak berbeda dengan model pertama yang berbasis integrasi tanaman ternak, kecuali dukungan teknologi yang diperlukan pada model 2 ini hanya terkait dengan komoditas pala dan produk turunannya, seperti tertuang pada Tabel 1.
Tabel 1 menunjukkan bahwa dalam upaya membangun Kampung Pala berwawasan bio industri diperlukan dukungan teknologi dalam kegiatan peningkatan produk utama, pengolahan produk utama, dan produk sampingan. Teknologi tersebut telah tersedia diberbagai institusi penelitian seperti Badan Litbang Pertanian.  Hasil penerapan teknologi di atas bukan saja dapat meningkatkan produk secara kuantitas maupun kulaitas, tetap yang menjadi ciri utama Bio-Industri adalah dapat merubah limbah menjadi produk-produk bernilai ekonomi yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan pendapatan petani.
Tabel 1. Dukungan Teknologi mendukung pembangunan kampung pala berwawasan pertanian bio-industri.di kabupaten Fak-fak

No
Lingkup Kegiatan
Model1
Model 2
Sumber Teknologi
1
Optimalisasi integrasi Pala -Kambing
Teknologi produksi  pala (Pembersihan lahan dan sanitasi, pemberian pupuk Organik, Sambung Pucuk/okulasi
Teknologi Pemeliharaan kambing (Sistem Perkandangan,Pakan, nutrisi, Kesehatan hewan

Teknologi Produksi Pala (Pembersihan lahan dan sanitasi
Pemberian pupuk Organik, Sambung Pucuk/okulasi


Puslitbangbun
Puslitbangnak BPTP
2
Penang
anan hasil Utama
Pengolahan biji pala (Asar)
Pembuatan Aneka minuman dan manisan pala

Pengolahan daging kambing (dendeng)
Pengolahan susu kambing
Pengolahan biji pala (Asar)
Pembuatan Aneka minuman dan manisan pala
BB Pasca panen
Puslitbangbun
Puslitbangnal
BPTP
3
Penanganan Hasil samping
Teknologi  Pembuatan Pupuk organik cair (POC) dari urine kambing

Teknologi  Pembuatan Pupuk Organik Padat (POP) terbuat dari kotoran kambing, serasah daun pala, dan limbah cangkang buah
-



Pupuk organik padat dari serasah daun pala dan limbah cangkang buah
Puslitbangnak
Puslitbangbun
BPTP
4
Penyiapan Alsintan
Alat pencacah/Appo
Alat penghancur (Hammer dismili)

BB Alsintan
 Sumber:  Hiasinta dan Sutisna Entis 2015 di modifikasi


PELUANG DAN TANATANGAN
Dukungan Pemerintah kabupaten Fakfak dalam pengembangan komoditas pala cukup besar. Hal ini tercermin melalui pencanangan program, diantaranya seperti program peningkatan produksi pala negeri, program pengembangan pala organik dan program rehabilitasi dan penjarangan tanaman pala. Selain itu Pemerintah daerah juga telah menggandeng lembaga penelitian seperti Badan Litbang Pertanian/Puslitbangbun, dan perguruan tinggi, serta adanya dukungan kebijakan berupa  perizinan usaha yang relatif mudah dan cepat prosesnya.
 Pada tahun 2016 badan Litbang Pertanian telah melepas varietas Pala Papua dimana penelitiannya intensif dilakukan di kabupaten Fak-fak. Demikian juga Universitas Papua (UNIPA) telah melakukan pendataan pala negeri di kabupaten Fak-fak melalui pencitraan “Citra Alos” sehingga telah dihasilkan  data perluasan lahan pala negeri di kabupaten Fak-fak.
Dari aspek sumberdaya lahan dan sumberdaya manusia,   luas pengembangan pala di kabupaten Fakfak sampai saat ini tercatat 16.733 ha dengan jumlah petani sekitar 10.000 kk, yang menyebar di tujuh distrik yaitu, Fakfak Barat, Fakfak Tengah, Fakfak Timur, Kramomongga, Kokas, Fakfak Kota, dan Teluk Patipi. Total luasan tersebut  baru 12,58 %  dari potensi lahan yang ada (Luas distrik 991.900 ha) (Interprestasi Data Citra Alos ,2010) oleh Tim UNIPA , 2013), dalam  Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, 2015; BPS Kabupaten Fak-Fak 2015). Data tersebut rnenunjukkan bahwa masih terdapat potensi pengembangan pala seluas 975.167 ha dengan luas eksisting tanaman pala saat ini sebesar 16.733 ha.
Selain itu di kabubaten Fak-fak terdapat kearifan lokal yang berfungsi untuk mengamankan buah pala  dari aspek kualitas (tidak dipanen mentah) sekaligus pengamanan  dari tindakan penyimpangan sosial “pencurian,”  kelemmbagaan tersebut dikenal dengan “Sasi” (Sasi Darat khusus untuk tanaman pala). Sasi merupakan norma-norma/aturan tidak tertulis yang disepakati dan dipatuhi oleh semua masyarakat dan diawasi pelaksanaannya oleh kepala Dusun (merepresentasikan adat). Lambang sasi diwujudkan dalam bentuk dahan kayu yang dibungkus oleh kain merah lalu ditancapkan dalam tanah sehingga berdiri tegak. Pemasangan sasi   dilakukan sekitar 2 bulan sebelum panen raya, dan dicabut pada saat panen dimulai.
Pemasangan dan pencabutan  sasi dilakukan oleh masyarakat dan dihadiri  oleh pejabat pemerintah setempat (kepala Distrik dan kepala kampung), kepala dusun, paraja, dan tokoh masyarakat. Dengan dicabutnya “Sasi “, masyarakat sudah bisa memulai panen pala, tetapi sebaliknya jika sasi belum dibuka masyarakat tidak diperbolekan memanen pala sekalipun itu di kebunnya sendiri. Pelanggaran terhadap kelembagaan ini dapat dikenakan sangsi adat berupa kurungan selama berjalannya musim panen pala (sekitar 2 - 3 bulan).
Sebagai tantangan dalam upaya mewujudkan “kampung pala”  di kabupaten fakfak banyak berkaitan dengan masih  rendahnya penerapan inovasi teknologi.Tanaman pala yang dikembangkan di kabupaten Fak-fak mayoritas masih berupa “hutan pala” artinya pada areal penanaman pala terdapatan berbagai tumbuhan dan tanaman seperti jenis kayu-kayuan, semak-semak, dan tanaman lainnya seperti durian, rambutan, mangga, dan jenis tanaman lainnya, serta tanaman pala itu sendiri yang belum tertata berdasarkan jarak tanam dan kelurusan tanaman, akibatnya jumlah tanaman per ha relatif sedikit hanya berkisar  200 sampai 500 tanaman (jika tanam teratur  mencapai 625 pohon/ha (4mX4m), atau 830 phn/ha (3X4)).  Tanaman pala tumbuh tinggi karena adanya persaingan cahaya dengan tanaman/tumbuhan hutan lainnya dan banyak di dapati tanaman pala yang buahnya sediit sekali  (“pala jantan”), serta belum dilakukan pemeliharaan tanaman secara intensif termasuk kurangnya pemberian pupuk baik organik maupun an-organik. Semuanya bermuara pada rendahnya produktivitas dan mahalnya biaya karena tingkat kesulitan  yang tinggi pada saat panen.
Selanjutnya dukungan kelembagaan berkaitan dengan organisasi poktan, gapoktan, lembaga keuangan mikro, dan jaringan pasar juga  masih lemah. Kelembagaan pedesaan tersebut sangat diperlukan dalam upaya mewujudkan “Kampung Pala” berwawasan agro-industri. Berdasarkan observasi lapangan masih banyak ditemukan dalam satu kampung hanya satu kelompok yang aktif (sekitar 15 kk), sedangkan tingkat keaktifannya banyak dipicu dengan  adanya program dari pemerintah daerah. Demikian juga kelembagaan keuangan mikro belum ada, sehingga masih banyak petani terjerat utang pada pedagang pengumpul.

LANGKAH LANGKAH PEMBENTUKAN KAMPUNG PALA

Ada tiga fase yang perlu dilalui dalam proses pembentukan kampung pala, Fase pertama  kita sebut dengan inisiasi model. Dalam fase ini rangkai kegiatannya meliputi: koordinasi, penentuan lokasi (CPCL), penyusunan model dan ujicoba. Fase kedua kita namakan implmentasi model. Dalam fase ini rangkaian kegiatan meliputi Koordinasi, implementasi model, dan Pengawalan. Fase terakhir penguatan dan pengembangan model. Fase ini rangkaian kegiatannya meliputi: Implementasi model,  Pengawalan, dan Pengembangan (Tabel 2)
Tabel 2.Roadmaf Kegiatan Pembangunan kampung Pala berwawasan Bioindustri
Tahapan
Uraian Kegiatan
Output
I
Koordinasi
Penentuan lokasi dan pelaksana
Identifikasi
Inisiasi model
Penyusunan model
Ujicoba model
Terjalin koordinasi berbagai pihak yang terkait
Ditetapkan lokasi pilot Project, teridentifikasi, potensi dan permasalahan, rancangan model, secara terbatas uji coba model
II
Koordinasi
Implementasi model
Pengawalan
Terjalinnya koordinasi berbagai pihak yang terkait, terbentuknya model, inplementasi model, dan pengawalan.
III
Koordinasi
Implementasi model
Pengawalan
Pengembangan
Dihasilkannya model, pemantapan,dan pengembngan.

Tabel 2 juga memperlihatkan bahwa setiap tahapan selalu mencanangkan kegiatan koordinasi. Hal ini dimaksudkan agar pelaksanaan kegiatan ini senantiasa diawali dengan koordinasi yang bertujuan agar setiap anggota TIM atau unsur terkait senaantiasa memahami tugas-tugas  yang harus dikerjakan.  Selanjutnya  pada setiap tahapan juga senantiasa  menargetkan adanya output antara yang sifatnya berjenjang sampai dihasilkannya output akhir  pada tahun III, yaitu terbentuknya kampung pala bewawasan bio-industri.

KESIMPULAN DAN  REKOMENDASI
  • Pala (Myristica fragrans Houtt) ialah tanaman asli Indonesia yang berasal dari kepulauan Banda, Maluku. Kini Wilayah penghasil utama pala meliputi  Maluku, Sulawesi Utara, Maluku utara, Sumatra Barat, Aceh, jawa Barat, dan Papua, termasuk kabupaten Fak-fak Papua Barat..
  • Sebagai  pengkasil Pala di Wilayah Timur Indonesia, kabupaten Fakfak perlu mempertahankan dan meningkatkan eksistensinya dengan berbagai cara, salah satunya melalui pembentukan kampung pala berwawasan bio-Industri. Hal ini ditunjang dengan potensi sumberdaya lokal yang ada, meliputi sumberdaya lahan, sumberdaya manusia, dan kelembagaan.
  • Model pengembangan bio-industri yang cocok untuk mendukung pembentukan kampung Pala, yakni model menurut komposisi komoditas.  Dalam hal ini bisa berbasis integrasi tanaman ternak, atau berbasis  single Comodity, dengan menetapkan pala sebagai komoditas utama
  • Pembentukan kampung pala berwawasan bio-industri di kabupaten Fak-fak dapat melalui tiga fase dengan kisaran waktu sekitar tiga sampai empat tahun. Perlu didukung dengan tersedianya inovasi teknis dan kelembagaan.
  • Disarankan kepada Pemerintah daerah untuk meningkatkan peran aktifnya baik berkaitan dengan biaya, maupun dukungan kebijakan, berupa menciptakan iklim usaha yang kondusif, memperkuat organisasi petani, serta membentuk Tim yang solid terdiri dari beberapa instansi yang terkait dengan pengembangan komoditas pala.




DAFTAR PUSTAKA
BPS Kabupaten Fak-Fak 2014. Kabupaten Faak-fak Dalam Angka Tahun 2014.  Badan Pusat Statistik Kabupaten Fak-fak.
Carter, D., & Spence, C. (2011). The dictatorship of love. A response to “ A spiritual reflection on emancipation and accounting” By pala molisa. Critical Perspectives on Accounting, 22(5), 485–491. https://doi.org/10.1016/j.cpa.2011.01.005
Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, 2015. Laporan Tahunan.
Freitas, J. S., Silva, E. M., Leal, J., Gras, D. E., Martinez-Rossi, N. M., Dos Santos, L. D., … Rossi, A. (2011). Transcription of the Hsp30, Hsp70, and Hsp90 heat shock protein genes is modulated by the PalA protein in response to acid pH-sensing in the fungus Aspergillus nidulans. Cell Stress and Chaperones, 16(5), 565–572. https://doi.org/10.1007/s12192-011-0267-5
Gagnard, V., Leydet, A., Le Mellay, V., Aubenque, M., Morère, A., & Montero, J. L. (2003). Synthesis and biological evaluation of S-acyl-3-thiopropyl prodrugs of N phosphonoacetyl-L-aspartate (PALA). European Journal of Medicinal Chemistry, 38(10), 883–891. https://doi.org/10.1016/j.ejmech.2003.07.002
Hendriadi, A. 2014. Model Pengembangan Pertanian Perdesaan Berbasis Inovasi. Makalah disampaikan pada Workshop Evaluasi dan Rencana Kegiatan Peningkatan Kinerja BPTP Tahun 2014. Bogor, 8 Januari 2014.
Hiasinta dan Sutisna Entis 2015. Laporan Akhir  Pengembangan Pertanian Bio-Industri tahun 2015. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat
Kementan, 2015a. Pedoman Umum Pembentukan Lembaga Keuangan Mikro-Agribisnis (LKM-A) Kementerian Pertanian. Jakarta
Ros La Gamba, 2015. “Pertumbuhan   Dan    Perkembangan   Bunga   Dan  Buah Tanaman Pala (Myristica Fragrans Houtt) Di Kecamatan Amahai”. Skripsi. Pakultas  Pertanian Universitas Darussalam. Ambon
Kiptiyah, M. (2015). Cerpen “ Perempuan Pala” Karya Azhari. Dialektika: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, Dan Matematika, 1(1), 12–22. Retrieved from http://dialektika.scienceontheweb.net/index.php/TIKA/article/view/12
Perpustakaan UGM, i-lib. (2000). KOMPONEN KIMIA MINYAK ATSIRI PALA MABA. Jurnal I-Lib UGM. Retrieved from http://i-lib.ugm.ac.id/jurnal/download.php?dataId=3757
PIPP, 2014 . hal XXXV.
Prastowo, B. 2014. Pengembangan Pertanian Boindustri: Konsep, Arah dan Strategi. Makalah Dalam Raker BBSDLP, Bandung 25 – 28 Februari 2014

Sari, W., & Agustina, E. (2011). UJI BIOEFIKASI MINYAK SERAI DAN PALA PRODUK KHAS ACEH SEBAGAI ANTI NYAMUK VEKTOR DEMAM BERDARAH. In Proceedings of The Aceh Development International Conference 2011 (Vol. 2011, pp. 26–28).
Syahyuti, 2014. Mau Ini Apa Itu. “Komparasi Konsep, Teori, dan Pendekatan Dalam Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (125 versus 125)”. PT Naga Kusuma Media Kreatif. Cawang Jakarta Timur
Sutisna, Entis 2015 . Data-Base LKM-A PUAP Provinsi Papua Barat tahun 2015. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat.
Van Den Bosch, H., & Frey, J. (2003). Interference of outer membrane protein PalA with protective immunity against Actinobacillus pleuropneumoniae infections in vaccinated pigs. Vaccine, 21(25–26), 3601–3607. https://doi.org/10.1016/S0264-410X(03)00410-9
Vincent, O., Rainbow, L., Tilburn, J., Arst, H. N., & Peñalva, M. A. (2003). YPXL/I is a protein interaction motif recognized by aspergillus PalA and its human homologue, AIP1/Alix. Molecular and Cellular Biology, 23(5), 1647–55. https://doi.org/10.1128/MCB.23.5.1647-1655.2003