
![]() |
MEMBANGUN
“KAMPUNG PALA" BERWAWASAN
PERTANIAN BIO - INDUSTRI
DI KABUPATEN
FAK-FAK – PAPUA BARAT
Oleh Entis Sutisna dan
Amisnaipah
Peneliti Balai Pengkaian
Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat
ABSTRAK
Pala (Myristica fragrans Houtt) ialah tanaman asli Indonesia yang berasal
dari kepulauan Banda, Maluku. Kini Wilayah penghasil utama pala meliputi Maluku, Sulawesi Utara, Maluku utara, Sumatra
Barat, Aceh, jawa Barat, dan Papua, termasuk kabupaten Fak-fak Papua Barat.
Sebagai pengkasil Pala di Wilayah Timur
Indonesia, kabupaten Fakfak perlu mempertahankan dan meningkatkan eksistensinya
dengan berbagai cara, salah satunya melalui pembentukan kampung pala berwawasan
bio-Industri. Hal ini diyakini dapat
terwujud karena ditunjang dengan potensi
sumberdaya lokal yang ada, meliputi sumberdaya lahan, sumberdaya manusia, dan
kelembagaan. Serta adanya dukungan dari Pemerintah. Model pengembangan
bio-industri yang cocok untuk mendukung pembentukan kampung Pala, yakni model
menurut komposisi komoditas, bisa berbasis integrasi tanaman ternak, atau
berbasis single Comodity, dengan menetapkan pala sebagai komoditas utama. Pembentukan kampung pala berwawasan bio-industri
di kabupaten Fak-fak dapat ditempuh melalui tiga fase dengan kisaran waktu
sekitar tiga sampai empat tahun. Untuk itu
perlu didukung dengan tersedianya inovasi teknis dan kelembagaan.
Disarankan kepada Pemerintah daerah untuk meningkatkan peran aktifnya baik
berkaitan dengan biaya, maupun dukungan kebijakan, berupa menciptakan iklim
usaha yang kondusif, memperkuat organisasi petani, serta membentuk Tim yang
solid terdiri dari beberapa instansi yang terkait dengan pengembangan komoditas
pala.
PENDAHULUAN
Tanaman
pala (Myristica fragrans Houtt) ialah tanaman asli Indonesia yang berasal
dari kepulauan Banda, Maluku. Tanaman pala merupakan tumbuhan berbatang sedang
yang tumbuh di daerah tropis, beriklim lembab dan panas, serta memiliki daun
berbentuk bulat telur atau lonjong yang selalu hijau sepanjang tahun. Di
Indonesia penghasil utama pala berasal dari wilayah Maluku, Sulawesi Utara,
Maluku utara, Sumatra Barat, Aceh, jawa Barat, dan Papua (Kiptiyah,
M. 2015; Ros La Gamba, 2015)
Tanaman pala memiliki keunggulan
yaitu hampir semua bagian batang maupun buahnya dapat dimanfaatkan, mulai dari
kulit batang dan daun, fuli (benda yang berwarna merah yang menyelimuti kulit
biji), biji pala dan daging buah pala (Van
Den Bosch, H., & Frey, J. 2013; Carter, D., & Spence, C. 2011; ).
Pala pada
umumnya dimanfaatkan sebagai rempah-rempah, ada pula digunakan sebagai
penghasil minyak atsiri dan bahan obat (Perpustakaan
UGM, i-lib. 2000; Sari, W., & Agustina, E. 2011; Vincent, O., Rainbow, L.,
Tilburn, J., Arst, H. N., & Peñalva, M. A. 2003 ; Freitas, J. S., Silva, E.
M., Leal, J., Gras, D. E., Martinez-Rossi, N. M., Dos Santos, L. D., Rossi, A.
2011 ). Daging buah pala sendiri digemari oleh masyarakat jika telah diproses
menjadi makanan olahan, misalnya: sirup, asinan pala, manisan pala, marmelade,
selai pala, dodol serta kristal daging buah pala.
Di Kabupaten Fakfak komoditas ini merupakan sumber penghasilan yang
sangat diandalkan oleh masyarakat. Dalam setahun paling sedikit enam
sampai delapan bulan kebutuhan hidup terpenuhi dari hasil pala. Masyarakat
petani melihat pala seperti melihat
uang, belanja ke-warung bisa dengan pala, pinjam uang (untuk kebutuhan mendesak) bisa
dibayar dengan pala, bahkan orangtua mereka bisa naik haji karena hasil pala.
Eksistensi
tanaman pala di kabupaten Fak-fak perlu dipertahankan dan ditingkatkan. Dalam
hal ini perlu perhatian khusus pemerintah daerah dalam upaya pengembangan pala
saat ini dan kedepan. Membangun Kampung Pala dengan mengembangkan inovasi
pertanian Bio-Industri, merupakan
langkah jitu yang patut diimplementasikan. Tulisan ini merupakan bahan masukan bagi
pemerintah daerah, utamanya Pemda
(Pemerintah Daerah) Kabupaten Fak-fak berkaitan dengan bagaimana
mempertahankan dan meningkatkan eksistensi tanaman pala melalui pembangunan
kampung pala berwawasan Bio-Industri.
SISTEM PERTANIAN BIO INDUSTRI
Sistem pertanian bio-industri adalah sistem pertanian
yang mengelola dan memanfaatkan secara optimal seluruh sumberdaya hayati
termasuk biomasa dan/atau limbah organik pertanian bagi kesejahteraan
masyarakat dalam suatu ekosistem secara harmonis (Hendriadi, 2013). Lebih lanjut dinyatakan bahwa konsep
bio-industri tidak hanya fokus pada pemanfaatan pangan, pakan, pupuk dan
energi (multi guna), namun juga lebih
mengedepankan pemanfaatan dan rekayasa genetik terhadap keberlimpahan
sumberdaya genetik (plasma nutfah)
Sistem
Pertanian-Bioindustri dipandang sesuai
untuk dijadikan sebagai pendekatan pembangunan pertanian di
Indonesia. Dalam pendekatan tersebut
mengindikasikan adanya kesadaran, semangat, nilai budaya, dan tindakan (sistem
produksi, pola konsumsi, kesadaran akan jasa ekosistem), serta memanfaatkan
sumberdaya hayati bagi kesejahteraan manusia dalam suatu ekosistem yang harmonis.
Dalam pengembangannya, Pertanian Bioindustri perlu difokuskan untuk
mewujudkan pembangunan pertanian inklusif yang merata, berkelanjutan dan
menjamin terwujudnya sinergitas ketahanan
pangan (food security), ketahanan energi (energy security) dan ketahanan air (water security)
(Kementerian Pertanian, 2014). Dengan demikian pendekatan pembangunan pertanian
ini perlu dikembangkan di seluruh wilayah Nusantara yang berbasis pada
sumberdaya lokal.
Sejalan dengan itu maka prinsip
dasar pertanian bioindustri adalah pertanian minimum limbah,
minimum imported input dan enegi, pertanian pengolah biomasa dan limbah menjadi
bioproduk baru bernilai tinggi, terpadu ramah lingkungan dan sebagai kilang
biologi (biorefinery) berbasis iptek maju (FKPR, 2014 Prastowo, B.
2014).
Sedangkan pengembangan
pertanian bioindustri adalah pengembangan pertanian yang ramah lingkungan,
menerapkan inovasi teknologi, integrasi, dimulai dari hulu hingga hilir dan berkelanjutan
serta memiliki nilai ekonomi tinggi dari
pengolahan hasil samping, biomasa atau limbahnya.
Terdapat
hal-hal yang dapat dijadikan acuan atau pokok-pokok pikiran dalam memahami
pertanian bio-industri yang ideal, antara lain (Panduan Pengembangan Pertanian
Bio Industri, 2015:
- Pertanian dikembangkan dengan menghasilkan sedikit mungkin limbah tak bermanfaat, sehingga mampu menjaga kelestarian alam atau mengurangi peencemaran lingkungan
- Pertanian dikembangkan dengan menggunakan sedikitmungkin input dari luar, sehingga biaya produksi dapat ditekan seminimal mungkin yang dampaknya akan meningkatkan daya saing produk-produk pertanian untuk pangan,energi, dan bahan baku industri.
- Pertanian dikembangkan dengan menggunakan sedikit mungkin energi dari luar, sekaligus mengurangi ancaman peningkatan pemanasan global dalam suatu sistem integrasi tanaman ternak.
- Pertanian dikembangkan seoptimal mungkin agar mampu berperan selain menghasilkan produk pangan juga pengolah biomasa dan limbahnya sendiri menjadi produk baru bernilai tinggi
- Pertanian dikembangkan mengikuti kaidah-kaidah pertanian terpadu ramah lingkungan, sehingga produknya dapat diterima dalam pasar global yang semakin kompetitif.
- Pertanian pada akhirnya dikembangkan sebagai kilang biologi (biorefinery) berbasis iptek maju penghasil produk pangan sehat dan produk non pangan bernilai tinggi, sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan ekspor produ-produk olahan dan mengurani impor berbagai komoditas pertanian seperti kedele, buah-buahan, beberapa sayuran, pakan ternak, susu, daging dan sebagainya.
“KAMPUNG
PALA” BERWAWASAN PERTANIAN BIO-INDUSTRI,
SEBUAH GAGASAN
Ada beberapa pendekatan
yang dapat dilakukan dalam mengembangkan model inovasi pertanian bio-industri,
yaitu: (a) model menurut komposisi
komoditas, (b) model menurut kawasan, (c) model berbasis agro ekosistem. Dari
ketiga model tersebut mengindikasikan
bahwa pertanian bio industri sangat berkaitan dengan sumberdaya lahan, tanaman,
ternak, sumberdaya manusia, dan teknologi.
Dalam membangun kampung
pala berwawasan bio-industri di kabupaten Fak-fak, lebih tepat menggunakan
model menurut komposisi komoditas. Dalam
hal ini bisa berbasis integrasi tanaman ternak, atau berbasis single
Comodity, dengan menetapkan pala sebagai
komoditas utama. Kedua basis model ini dapat dilihat melalui Gambar 1 dan Gambar
2.
|
|
Gambar1. Model Bio Industri Berbasis
Integrasi Pala-Kambing
Gambar 1 menunjukkan
model ideal kampung pala berwawasan bio-industri berbasis pala-kambing. Dalam
hal ini kampung sebagai satu kesatuan masyarakat dengan tingkat homogenitas
yang tinggi. Sebagian besar masyarakat hidup sebagai petani pala dan peternak
kambing secara terintegrasi. Dari kegiatan ini petani akan memperoleh tambahan pendapatan (selain
dari tanaman pala dengan berbagai diversifikasi produknya, juga memperoleh
pendapatan dari ternak kambing dengan
berbagai diversifikasinya) di sisi lain dapat menekan biaya karena adanya
integrasi yang mencerminkan adanya efisien baik dari penggunaan tenaga kerja
maupun dari penggunaan iiput dengan mengedepankan penggunaan “ internal input” dan “internal energi”
sebagai hasil dari proes bio-industri
Secara kelembagaan
masyarakat terhimpun dalam beberapa” kelompok tani “pala (primair organisation) yang selanjunya diwadahi dalam Gabungan
Kelompok Tani (Gapoktan) , melalui jalur organisasi ini petani pala yang
sekaligus peternak dapat memperoleh aliran teknologi yang bersumber dari
penyuluh atau langsung dari peneliti atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) (Sahyuti,
2014). Demikian juga umpan balik teknologi berdasarkan keluhan petani akan
sampai kepeneliti melalui poktan dan gapoktan bisa juga secara langsung melalui
penyuluh dan peneliti.
Peran Pemerintah Daerah
terutama dalam hal kebijakan, mempermudah pihak swasta dalam berinvestasi,
mengaktifkan kelembagaan penyuluhan, dan bekerjasama dengan peneliti (minimal
terjadi sinergis program). Selain itu perlu menghidupkan pasar dan Lembaga
Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A).
Berkaitan dengan LKMA,
lembaga ini memiliki berbagai fungsi, selain sebagai penyedia permodalan buat
usaha “non-bankabel”, juga sebagai penghimpun dana masyarakat, sekaligus bisa berfungsi sebagai pasar dan melakukan usaha
otonom. Apalagi kalau sudah berbadan hukum dan memiliki izin usaha dapat
memperoleh kemudahan baik dari aspek pembinaan maupun kemudahan akses dana
dengan bunga yang sangat ringan. LKM-A
dapat didirikan dari Gapoktan, sebagai salah satu unit usahanya, bisa dimulai
dengan struktur yang sederhana yang terdiri dari Manager, Pembuku, dan Kasir
(Kementan, 2015).
Di kabupaten Fak-fak
sampai sat ini sudah ada 77 Gapoktan
PUAP, diantaranya sudah dipersiapkan menjadi LKMA berbadan hukum sekitar 10
Gapoktan. Gapoktan tersebut sudah
melaksanakan kegiatan usaha ekonomi produktif dan kegiatan simpan pinjam. Tahap
selanjutnya jika administrasi sudah diperbaiki tinggal mengundang koperasi
untuk menerbitkan badan hukum dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) untuk
menerbitkan izin usahanya ( Sutisna, Entis 2015).
Karakteristik khusus
kampung pala berwawasan pertanian bio-industri ini ditandai dengan adanya
penanganan produk utama, produk sampingan, dan penangnan limbah. Dari kegiatan
peternakan kambing dapat diperoleh produk utama berupa daging, produk
sampingannya susu kambing, dan penanganan limbah kambing berupa “peaces”
(kotoran padat), Urine
(kotoran cair) menjadi POP (pupuk organik padat) dan POC (pupuk organik cair),
dengan demikian pemeliharaan kambing harus dilakukan dengan sistem
perkandangan.
Demikian juga dari
kegiatan usahatani pala ada produk utama berupa biji pala dan puli, produk
sampingan berupa manisan dan sirup yang
terbuat dari daging buah pala. Sedangkan penanganan limbah berasal dari daging
buah yang tidak terpakai untuk diproses menjadi POP yang dicampur dengan
kotoran padat kambing. Untuk kesempurnaan pembuatan POP diperlukan alat
pendukung berupa mesin pencacah dan mesin penghancur (Humer Dismile).
Gambar 2. Model Bio Industri Berbasis Single
Komoditas (Pala)
Tabel 1 menunjukkan bahwa
dalam upaya membangun Kampung Pala berwawasan bio industri diperlukan dukungan
teknologi dalam kegiatan peningkatan produk utama, pengolahan produk utama, dan
produk sampingan. Teknologi tersebut telah tersedia diberbagai institusi
penelitian seperti Badan Litbang Pertanian.
Hasil penerapan teknologi di atas bukan saja dapat meningkatkan produk
secara kuantitas maupun kulaitas, tetap yang menjadi ciri utama Bio-Industri
adalah dapat merubah limbah menjadi produk-produk bernilai ekonomi yang pada
akhirnya bermuara pada peningkatan pendapatan petani.
Tabel 1. Dukungan Teknologi mendukung
pembangunan kampung pala berwawasan pertanian bio-industri.di kabupaten Fak-fak
No
|
Lingkup
Kegiatan
|
Model1
|
Model 2
|
Sumber
Teknologi
|
1
|
Optimalisasi
integrasi Pala -Kambing
|
Teknologi
produksi pala (Pembersihan lahan dan
sanitasi, pemberian pupuk Organik, Sambung Pucuk/okulasi
Teknologi
Pemeliharaan kambing (Sistem Perkandangan,Pakan, nutrisi, Kesehatan hewan
|
Teknologi
Produksi Pala (Pembersihan lahan dan sanitasi
Pemberian
pupuk Organik, Sambung Pucuk/okulasi
|
Puslitbangbun
Puslitbangnak
BPTP
|
2
|
Penang
anan
hasil Utama
|
Pengolahan
biji pala (Asar)
Pembuatan
Aneka minuman dan manisan pala
Pengolahan
daging kambing (dendeng)
Pengolahan
susu kambing
|
Pengolahan
biji pala (Asar)
Pembuatan
Aneka minuman dan manisan pala
|
BB
Pasca panen
Puslitbangbun
Puslitbangnal
BPTP
|
3
|
Penanganan
Hasil samping
|
Teknologi Pembuatan Pupuk organik cair (POC) dari
urine kambing
Teknologi Pembuatan Pupuk Organik Padat (POP) terbuat
dari kotoran kambing, serasah daun pala, dan limbah cangkang buah
|
-
Pupuk
organik padat dari serasah daun pala dan limbah cangkang buah
|
Puslitbangnak
Puslitbangbun
BPTP
|
4
|
Penyiapan
Alsintan
|
Alat
pencacah/Appo
Alat
penghancur (Hammer dismili)
|
BB
Alsintan
|
Sumber: Hiasinta dan Sutisna Entis 2015 di modifikasi
PELUANG
DAN TANATANGAN
Dukungan Pemerintah
kabupaten Fakfak dalam pengembangan komoditas pala cukup besar. Hal ini
tercermin melalui pencanangan program, diantaranya seperti program peningkatan
produksi pala negeri, program pengembangan pala organik dan program
rehabilitasi dan penjarangan tanaman pala. Selain itu Pemerintah daerah juga telah
menggandeng lembaga penelitian seperti Badan Litbang Pertanian/Puslitbangbun,
dan perguruan tinggi, serta adanya dukungan kebijakan berupa perizinan usaha yang relatif mudah dan cepat
prosesnya.
Pada tahun 2016 badan Litbang Pertanian telah
melepas varietas Pala Papua dimana penelitiannya intensif dilakukan di
kabupaten Fak-fak. Demikian juga Universitas Papua (UNIPA) telah melakukan
pendataan pala negeri di kabupaten Fak-fak melalui pencitraan “Citra Alos”
sehingga telah dihasilkan data perluasan
lahan pala negeri di kabupaten Fak-fak.
Dari aspek sumberdaya
lahan dan sumberdaya manusia, luas
pengembangan pala di kabupaten Fakfak sampai saat ini tercatat 16.733 ha dengan
jumlah petani sekitar 10.000 kk, yang menyebar di tujuh distrik yaitu, Fakfak Barat,
Fakfak Tengah, Fakfak Timur, Kramomongga, Kokas, Fakfak Kota, dan Teluk Patipi.
Total luasan tersebut baru 12,58 % dari potensi lahan yang ada (Luas distrik 991.900
ha) (Interprestasi Data Citra Alos ,2010) oleh Tim UNIPA , 2013), dalam Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, 2015; BPS
Kabupaten Fak-Fak 2015). Data tersebut rnenunjukkan bahwa masih terdapat
potensi pengembangan pala seluas 975.167 ha dengan luas eksisting tanaman pala
saat ini sebesar 16.733 ha.
Selain itu di kabubaten
Fak-fak terdapat kearifan lokal yang berfungsi untuk mengamankan buah pala dari aspek kualitas (tidak dipanen mentah)
sekaligus pengamanan dari tindakan
penyimpangan sosial “pencurian,”
kelemmbagaan tersebut dikenal dengan “Sasi” (Sasi Darat khusus untuk
tanaman pala). Sasi merupakan norma-norma/aturan tidak tertulis yang disepakati
dan dipatuhi oleh semua masyarakat dan diawasi pelaksanaannya oleh kepala Dusun
(merepresentasikan adat). Lambang sasi diwujudkan dalam bentuk dahan kayu yang
dibungkus oleh kain merah lalu ditancapkan dalam tanah sehingga berdiri tegak. Pemasangan
sasi dilakukan sekitar 2 bulan sebelum panen raya,
dan dicabut pada saat panen dimulai.
Pemasangan dan
pencabutan sasi dilakukan oleh
masyarakat dan dihadiri oleh pejabat
pemerintah setempat (kepala Distrik dan kepala kampung), kepala dusun, paraja,
dan tokoh masyarakat. Dengan dicabutnya “Sasi “, masyarakat sudah bisa memulai
panen pala, tetapi sebaliknya jika sasi belum dibuka masyarakat tidak
diperbolekan memanen pala sekalipun itu di kebunnya sendiri. Pelanggaran
terhadap kelembagaan ini dapat dikenakan sangsi adat berupa kurungan selama
berjalannya musim panen pala (sekitar 2 - 3 bulan).
Sebagai tantangan dalam
upaya mewujudkan “kampung pala” di
kabupaten fakfak banyak berkaitan dengan masih
rendahnya penerapan inovasi teknologi.Tanaman pala yang dikembangkan di
kabupaten Fak-fak mayoritas masih berupa “hutan pala” artinya pada areal
penanaman pala terdapatan berbagai tumbuhan dan tanaman seperti jenis
kayu-kayuan, semak-semak, dan tanaman lainnya seperti durian, rambutan, mangga,
dan jenis tanaman lainnya, serta tanaman pala itu sendiri yang belum tertata
berdasarkan jarak tanam dan kelurusan tanaman, akibatnya jumlah tanaman per ha
relatif sedikit hanya berkisar 200
sampai 500 tanaman (jika tanam teratur
mencapai 625 pohon/ha (4mX4m), atau 830 phn/ha (3X4)). Tanaman pala tumbuh tinggi karena adanya
persaingan cahaya dengan tanaman/tumbuhan hutan lainnya dan banyak di dapati
tanaman pala yang buahnya sediit sekali (“pala jantan”), serta belum dilakukan
pemeliharaan tanaman secara intensif termasuk kurangnya pemberian pupuk baik
organik maupun an-organik. Semuanya bermuara pada rendahnya produktivitas dan
mahalnya biaya karena tingkat kesulitan
yang tinggi pada saat panen.
Selanjutnya dukungan
kelembagaan berkaitan dengan organisasi poktan, gapoktan, lembaga keuangan
mikro, dan jaringan pasar juga masih
lemah. Kelembagaan pedesaan tersebut sangat diperlukan dalam upaya mewujudkan
“Kampung Pala” berwawasan agro-industri. Berdasarkan observasi lapangan masih
banyak ditemukan dalam satu kampung hanya satu kelompok yang aktif (sekitar 15
kk), sedangkan tingkat keaktifannya banyak dipicu dengan adanya program dari pemerintah daerah.
Demikian juga kelembagaan keuangan mikro belum ada, sehingga masih banyak
petani terjerat utang pada pedagang pengumpul.
LANGKAH
LANGKAH PEMBENTUKAN KAMPUNG PALA
Ada
tiga fase yang perlu dilalui dalam proses pembentukan kampung pala, Fase
pertama kita sebut dengan inisiasi
model. Dalam fase ini rangkai kegiatannya meliputi: koordinasi, penentuan
lokasi (CPCL), penyusunan model dan ujicoba. Fase kedua kita namakan
implmentasi model. Dalam fase ini rangkaian kegiatan meliputi Koordinasi,
implementasi model, dan Pengawalan.
Fase terakhir penguatan dan pengembangan model. Fase ini rangkaian kegiatannya
meliputi: Implementasi model,
Pengawalan, dan Pengembangan (Tabel 2)
Tabel 2.Roadmaf Kegiatan Pembangunan
kampung Pala berwawasan Bioindustri
Tahapan
|
Uraian
Kegiatan
|
Output
|
I
|
Koordinasi
Penentuan
lokasi dan pelaksana
Identifikasi
Inisiasi model
Penyusunan
model
Ujicoba
model
|
Terjalin
koordinasi berbagai pihak yang terkait
Ditetapkan
lokasi pilot Project, teridentifikasi, potensi dan permasalahan, rancangan
model, secara terbatas uji coba model
|
II
|
Koordinasi
Implementasi model
Pengawalan
|
Terjalinnya
koordinasi berbagai pihak yang terkait, terbentuknya model, inplementasi
model, dan pengawalan.
|
III
|
Koordinasi
Implementasi
model
Pengawalan
Pengembangan
|
Dihasilkannya
model, pemantapan,dan pengembngan.
|
Tabel 2 juga memperlihatkan
bahwa setiap tahapan selalu mencanangkan kegiatan koordinasi. Hal ini
dimaksudkan agar pelaksanaan kegiatan ini senantiasa diawali dengan koordinasi
yang bertujuan agar setiap anggota TIM atau unsur terkait senaantiasa memahami
tugas-tugas yang harus dikerjakan. Selanjutnya
pada setiap tahapan juga senantiasa menargetkan adanya output antara yang sifatnya
berjenjang sampai dihasilkannya output akhir pada tahun III, yaitu terbentuknya kampung
pala bewawasan bio-industri.
KESIMPULAN
DAN REKOMENDASI
- Pala (Myristica fragrans Houtt) ialah tanaman asli Indonesia yang berasal dari kepulauan Banda, Maluku. Kini Wilayah penghasil utama pala meliputi Maluku, Sulawesi Utara, Maluku utara, Sumatra Barat, Aceh, jawa Barat, dan Papua, termasuk kabupaten Fak-fak Papua Barat..
- Sebagai pengkasil Pala di Wilayah Timur Indonesia, kabupaten Fakfak perlu mempertahankan dan meningkatkan eksistensinya dengan berbagai cara, salah satunya melalui pembentukan kampung pala berwawasan bio-Industri. Hal ini ditunjang dengan potensi sumberdaya lokal yang ada, meliputi sumberdaya lahan, sumberdaya manusia, dan kelembagaan.
- Model pengembangan bio-industri yang cocok untuk mendukung pembentukan kampung Pala, yakni model menurut komposisi komoditas. Dalam hal ini bisa berbasis integrasi tanaman ternak, atau berbasis single Comodity, dengan menetapkan pala sebagai komoditas utama
- Pembentukan kampung pala berwawasan bio-industri di kabupaten Fak-fak dapat melalui tiga fase dengan kisaran waktu sekitar tiga sampai empat tahun. Perlu didukung dengan tersedianya inovasi teknis dan kelembagaan.
- Disarankan kepada Pemerintah daerah untuk meningkatkan peran aktifnya baik berkaitan dengan biaya, maupun dukungan kebijakan, berupa menciptakan iklim usaha yang kondusif, memperkuat organisasi petani, serta membentuk Tim yang solid terdiri dari beberapa instansi yang terkait dengan pengembangan komoditas pala.
DAFTAR
PUSTAKA
BPS Kabupaten Fak-Fak 2014. Kabupaten
Faak-fak Dalam Angka Tahun 2014. Badan
Pusat Statistik Kabupaten Fak-fak.
Carter, D., & Spence, C. (2011). The
dictatorship of love. A response to “ A spiritual reflection on emancipation
and accounting” By pala molisa. Critical Perspectives on Accounting, 22(5),
485–491. https://doi.org/10.1016/j.cpa.2011.01.005
Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, 2015.
Laporan Tahunan.
Freitas, J. S., Silva, E. M., Leal, J.,
Gras, D. E., Martinez-Rossi, N. M., Dos Santos, L. D., … Rossi, A. (2011).
Transcription of the Hsp30, Hsp70, and Hsp90 heat shock protein genes is
modulated by the PalA protein in response to acid pH-sensing in the fungus
Aspergillus nidulans. Cell Stress and Chaperones, 16(5), 565–572.
https://doi.org/10.1007/s12192-011-0267-5
Gagnard, V., Leydet, A., Le Mellay, V.,
Aubenque, M., Morère, A., & Montero, J. L. (2003). Synthesis and biological
evaluation of S-acyl-3-thiopropyl prodrugs of N phosphonoacetyl-L-aspartate
(PALA). European Journal of Medicinal Chemistry, 38(10), 883–891.
https://doi.org/10.1016/j.ejmech.2003.07.002
Hendriadi,
A. 2014. Model
Pengembangan Pertanian Perdesaan Berbasis Inovasi. Makalah disampaikan pada
Workshop Evaluasi dan Rencana Kegiatan Peningkatan Kinerja BPTP Tahun 2014.
Bogor, 8 Januari 2014.
Hiasinta dan Sutisna Entis 2015. Laporan
Akhir Pengembangan Pertanian
Bio-Industri tahun 2015. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua
Barat
Kementan, 2015a. Pedoman Umum Pembentukan
Lembaga Keuangan Mikro-Agribisnis (LKM-A) Kementerian Pertanian. Jakarta
Ros La Gamba,
2015. “Pertumbuhan Dan Perkembangan Bunga
Dan Buah Tanaman Pala (Myristica Fragrans Houtt) Di Kecamatan
Amahai”. Skripsi. Pakultas Pertanian
Universitas Darussalam. Ambon
Kiptiyah, M. (2015). Cerpen “ Perempuan
Pala” Karya Azhari. Dialektika: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, Dan
Matematika, 1(1), 12–22. Retrieved from
http://dialektika.scienceontheweb.net/index.php/TIKA/article/view/12
Perpustakaan UGM, i-lib. (2000). KOMPONEN
KIMIA MINYAK ATSIRI PALA MABA. Jurnal I-Lib UGM. Retrieved from http://i-lib.ugm.ac.id/jurnal/download.php?dataId=3757
PIPP, 2014 . hal XXXV.
Prastowo, B. 2014.
Pengembangan Pertanian Boindustri: Konsep, Arah dan Strategi. Makalah Dalam
Raker BBSDLP, Bandung 25 – 28 Februari 2014
Sari, W., & Agustina, E. (2011). UJI
BIOEFIKASI MINYAK SERAI DAN PALA PRODUK KHAS ACEH SEBAGAI ANTI NYAMUK VEKTOR
DEMAM BERDARAH. In Proceedings of The Aceh Development International
Conference 2011 (Vol. 2011, pp. 26–28).
Syahyuti, 2014. Mau Ini Apa Itu.
“Komparasi Konsep, Teori, dan Pendekatan Dalam Pembangunan Pertanian dan
Pedesaan (125 versus 125)”. PT Naga Kusuma Media Kreatif. Cawang Jakarta Timur
Sutisna, Entis 2015 . Data-Base LKM-A PUAP
Provinsi Papua Barat tahun 2015. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)
Papua Barat.
Van Den Bosch, H., & Frey, J. (2003).
Interference of outer membrane protein PalA with protective immunity against
Actinobacillus pleuropneumoniae infections in vaccinated pigs. Vaccine, 21(25–26),
3601–3607. https://doi.org/10.1016/S0264-410X(03)00410-9
Vincent, O., Rainbow, L., Tilburn, J., Arst,
H. N., & Peñalva, M. A. (2003). YPXL/I is a protein interaction motif
recognized by aspergillus PalA and its human homologue, AIP1/Alix. Molecular
and Cellular Biology, 23(5), 1647–55. https://doi.org/10.1128/MCB.23.5.1647-1655.2003

Tidak ada komentar:
Posting Komentar